Belajar Seputar Fiqih Qurban Dan Aqiqah
Belajar Seputar Fiqh Qurban Dan Aqiqah – Sudah tahukah kamu apa pengertian Aqiqah dan Qurban? Banyak orang yang belum paham benar mengenai kedua amalan ibadah dalam Islam ini. Masih banyak umat Muslim yang menyamakan antara qurban dan aqiqah, padahal keduanya sangat berbeda.
Qurban dan aqiqah mempunyai satu kesamaan saja yaitu hukum melakukannya. Hukum qurban dan aqiqah adalah sunah muakad atau sunnah yang sangat dianjurkan. Jadi siapa saja umat islam yang mampu sangat disarankan untuk berqurban dan menyembelih aqiqah. Dalam hal ini penting memahami bahasan fiqih qurban dan aqiqah agar lebih sempurna dalam pelaksanaan ibadah qurban dan aqiqah.
Aqiqah, terminologi Islam, diartikan sebagai hewan yang disembelih pada saat melahirkan. Ini adalah kebajikan yang sangat membesarkan hati (Sunnah Mu'akadah) yang direkomendasikan oleh nabi (alaihissalam). Referensi pendukung: Diriwayatkan dari Salmaan ibn 'Aamir al-Dabbi bahwa Nabi (saw) bersabda: Saya mendengar Rasulullah (damai dan berkah besertanya) berkata:
“Aqiqah
harus dipersembahkan untuk anak laki-laki (yang baru lahir), jadi sembelih
(hewan) untuknya, dan singkirkan semua kotoran darinya.”
Diceritakan
oleh Al-Bukhari
Kapan
Aqiqah / Aqiqah Dilakukan?
Domba
sebaiknya disembelih pada hari ketujuh, namun bila terjadi keterlambatan boleh
disembelih sewaktu-waktu walaupun diutamakan dilakukan secepatnya. Referensi
Pendukung: Domba sebaiknya disembelih pada hari ketujuh, namun jika ditunda
boleh disembelih kapan saja, dan tidak ada dosa lagi jika ditunda, tetapi lebih
baik dilakukan secepatnya. Fataawa al-Lajnah al-Daa'imah, 11/439
Berapa
jumlah hewan yang harus dikurbankan per aqeeqah / aqiqah?
Untuk
anak laki-laki, dua domba harus dikorbankan, dan untuk anak perempuan, satu
domba harus dikorbankan. Referensi Pendukung: Diriwayatkan dari Umm Karaz bahwa
dia bertanya kepada Rasulullah (damai dan berkah besertanya) tentang Aqiqah dan
dia berkata:
“Untuk
anak laki-laki, dua ekor domba, dan untuk seekor betina satu domba, dan tidak
masalah apakah itu jantan atau betina.”
Diceritakan
oleh Al-Tirmidzi
Untuk
alasan apa saya melakukan pengorbanan umum?
Membuat
Sumpah Bersyarat (Nadir)
Kaul
ini termasuk dalam judul kaul untuk melakukan ibadah dan ketaatan, sehingga
harus dipenuhi, baik yang bersifat umum maupun bersyarat. Sumpah umum adalah
ketika seseorang berkata, misalnya, "Saya bersumpah - atau saya berjanji
kepada Allah - bahwa saya akan mengorbankan seekor domba, atau memberikannya
kepada orang miskin atau kepada kerabat saya."
Sumpah
bersyarat adalah di mana seseorang berkata, misalnya, "Jika Allah
menyembuhkan saya, atau jika saya berhasil, atau saya mendapat gaji, atau saya
memperoleh uang sebanyak itu, saya akan mempersembahkan korban, dll."
Berkenaan
dengan kewajiban memenuhi sumpah, itu karena Nabi (damai dan berkah dari Allaah
besertanya) bersabda:
"Barangsiapa
yang bersumpah untuk menaati Allah, biarkan dia menaati-Nya, tetapi siapa pun
yang bersumpah untuk tidak menaati Allah, jangan biarkan dia tidak
menaati-Nya."
HR.
Bukhari (6318).
Selama
Anda tidak menetapkan waktu khusus untuk memenuhi sumpah Anda, maka Anda diperbolehkan
untuk memenuhinya kapan saja, di hari-hari Idul Adha atau di waktu lain.
Tetapi
jika Anda berniat untuk mempersembahkan kurban tahun ini, kurban untuk memenuhi
sumpah Anda tidak dihitung sebagai kurban qurban / udhiyah juga, bahkan jika
itu dikorbankan pada hari Idul Adha. Tetapi jika Anda berniat untuk
mempersembahkan kurban tahun ini, kurban untuk memenuhi sumpah Anda tidak
dihitung sebagai kurban qurban / udhiyah juga, bahkan jika itu dikorbankan pada
hari-hari Idul Adha.
Bersyukur
(Bersyukur kepada Allah untuk sesuatu yang baik yang telah terjadi pada Anda)
Allah
berfirman (tafsir makna):
“Jadi
makanlah yang halal dan enak yang telah Allah sediakan untukmu. Dan bersyukur
atas Rahmat Allah, jika Dia Yang kau sembah "
[al-Nahl
16: 144]
“Carilah
rezeki dari Allah (Sendiri), dan sembah Dia (Sendiri), dan bersyukurlah
kepada-Nya. Kepada-Nya (Sendiri) kamu akan dibawa kembali ”
[al-‘Ankaboot
29:17]
Bagian
dari bersyukur kepada Allah adalah berusaha mendekatkan diri kepada-Nya melalui
berbagai jenis ibadah dan menyayangi diri-Nya melalui perbuatan baik seperti
shalat, zakat, puasa, dan sebagainya. Bagian lain dari bersyukur kepada Allah
adalah mengucap syukur melalui ritual pengorbanan, yaitu mempersembahkan korban
untuk kepentingan Allah.
Jika
Allah melimpahkan ridho yang besar kepada seseorang - dan segala ridho-Nya
besar - maka mustahabb (dianjurkan) baginya untuk bersyukur kepada Allah karena
itu dengan menunjukkan kebaikan kepada orang-orang, maka ia harus
mempersembahkan korban dan membuat makanan dan mengundang. saudara dan
teman-temannya, dan memberikan sedekah kepada mereka yang membutuhkan.

Comments
Post a Comment